Senin, 15 April 2013

BIMBINGAN DAN KONSELING



PENGERTIAN dan SEJARAH BIMBINGAN DAN KONSELING

A.     Pengertian Bimbingan
Rumusan tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke 20, yaitu sejak dimulainya bimbingan yang diprakasai oleh Frank Parson pada tahun 1908, dimana saat itu Frank Parson mendirikan sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau. Inilah yang merupakan cikal bakal pengembangan gerakan bimbingan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Adapun mengenai pengertian bimbingan, terdapat banyak pakar yang berusaha mendefinisikan arti dari bimbingan, diantaranya :
-          Frank Parson (dalm Jones, 1951) mendefiniskan bimbingan sebagai bantuan yang diberikan pada individu untuk dapat memilih mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu.
-          Dunnsmoor & Miller dalam McDaniel, 1969 mengatakan bahwa bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai suatu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk memperoleh penyesuaian yang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan
-          Menurut Mortensen dan Schmuller, 1976, bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu dalam menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mana setiap individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan dan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide-ide demokrasi
-          Menurut Bernard & Fullmer, 1969, mendefinisakn bimbingan sebagai segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu.
-          Menurut Jones, Staffire & Stewart, 1970, mendefinisikan bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana. Bantuan itu berdasarkan atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hidupnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diturunkan (diwarisi), tetapi harus dikembangkan.
Beberapa tokoh diatas berusaha mendefinisikan pengertian bimbingan. Dari sekian definisi yang ada, terdapat beberapa hal penting yang menjadi inti dari bimbingan, yaitu:
1.      Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses. Hal ini berarti bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan melalui proses tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini
2.      Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan. Bantuan disini tidak diartikan sebagai bantuan materil melainkan bantuan yang menunjang bagi pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing.
3.      Bantuan itu diberikan kepada individu, baik perseorangan maupun kelompok.
4.      Pemecahan masalah dalam bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri. Dalam hal ini, tujuan bimbingan adalah mengembangkan kemampuan klien untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapinya dan akhirnya dapat mencapai kemandirian.
5.      Bimbingan ini dilaksanakan dengan menggunakan bahan interaksi, nasihat ataupun gagasan, serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri, konselor, maupun dari lingkungan.
6.      Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tertentu sjaa, tapi meliputi semua usia.
7.      Bimbingan diberikan oleh orang yang ahli, yaitu orang yang memilki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan dan latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling.
8.      Pembimbing tidak selayaknya memaksakan keinginn-keinginannya kepada klien karena kline mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah dan jalan hidupnya sendiri.
9.      Bimbingan dilakukan sesuai  norma-norma yang berlaku. Dalam hal ini, proses bimbingan baik dari bentuk, isi dan tujuannya serta aspek-aspek penyelenggaraannya tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.

Kemudian Thantawy (dalam Thantawy, 1995) berusaha merumuskan bimbingan, yaitu:
1.      Bimbingan adalah suatu kegiatan memberikan bantuan atau pertolongan. Bantuan disini adalah dalam rangka dan untuk tujuan pendidikan, bantuan dalam mengatur aktivitas kehidupan bukan mengendalikan kehidupan individu; bantuan untuk membuat keputusan, bukan membuatkan keputusan bagi orang lain.
2.      Bimbingan ditujukan kepada semua individu, bukan hanya sekelompok individu yang mempunyai masalah.
3.      Bentuk bantuan haruslah sistematis, mengikuti prosedur yang direncanakan secara teratur bukan sporadic. Suatu proses yang berkesinambungan, bukan kegiatan yang bersifat sewaktu-waktu secara kebetulan. Suatu proses yang interaktif yang mendorong individu untuk berkembang sesuai potensinya.
4.      Bantuan haruslah datang darii orang-orang yang memiliki keahlian secara professional.  
Dari beberapa rangkuman diatas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu baik remaja maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Tujuan bimbingan adalah untuk mengembangkan kemampuan individu dalam:
a.      Memahami dirinya/ bakat, minat, kemampuan, kelemahan, nilai-nilai yang penting bagi dirinya.
b.      Memahami lingkungan atau kesempatan-kesempatan yang tersedia baik yang menunjang peningkatan penddikan, dan karir atau pekerjaan maupun kondisi yang mungkin menghambat kemajuan.
c.       Memilih alternative, menentukan atau mengambil keputusan tentang cita-cita atau jalan hidupnya dan menyesuaikan diri berdasarkan hasil pemahaman diri dan pemahaman akan lingkungan untuk meraih masa depan yang lebih cerah.
d.      Mengambil tindakan atau langkah-langkah untuk mengaktualisasikan cita-cita hidupnya dalam rangka meraih masa depan, serta memeperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan bagi dirinya dan masyarakat.

B.      Pengertian Konseling
Secara etimologis istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu “consilium” yang beararti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami”. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”.
Sama hal nya dengan bimbingan, banyak pakar yang berusaha mendefiniasikan tentang apa itu konseling. Diantaranya:
-          Menurut Jones (1955) konseling merupakan kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.
-          McDaniel, 1956 mendefinisikan konseling sebagai suatu rangkaian pertemuan langsung dari individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan diri secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya.
-          Kemudian Bernard dan Fullmer menyatakan bahwa konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan, motivasi dan potensi-potensi yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasi ketiga hal tersebut.
Dari sekian banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (yang disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (yang disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Kemudian dapat dirumuskan dengan singkat bahwa Bimbingan Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.



Sejarah Bimbingan Konseling
Dari mulai berdirinya sampai saat ini bimbingan dan konseling terus mengalami perkembangan, baik di dunia maupun di Indonesia. Miller (dalam prayitno, 1999) berusaha meringkaskan perkembangan bimbingan dan konseling kedalam lima periode.
Periode pertama, Frank Parson memprakarsai gerakan bimbingan melalui didirikannya sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston pada tahun 1908. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau. Inilah yang merupakan cikal bakal pengembangan gerakan bimbingan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pada masa ini bimbingan dilihat sebagi usaha mengumpulkan berbagai keterangan tentang individu dan tentang jabatan.
Pada periode kedua gerakan pendidikan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. Dalam tahap ini bimbingan dirumuskan sebagai suatu totalitas pelayanan yang secara keseluruhan dapat diintegrasikan kedalam upaya pendidikan. Pada dua periode awal ini rumusan konseling belum dirumuskan.
Pada periode ketiga, pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. Pada periode ini disadari benar bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya disangkut pautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja, tidak juga mencocokkan individu dengan jabatan-jabatan tertentu saja, malainkan juga peningkatan kehidupan mental. Pada periode ini rumusan konseling dimunculkan.
Pada periode keempat gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. Pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Membantu individu dalam mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya dalam mencapai kematangan dan kedewasaan menjadi tujuan utama.
Periode kelima. Pada periode ini tampak adanya dua arah yang berbeda, yaitu kecenderungan untuk kembali pada periode pertama dan kecenderungan yang lebih menekankan pada rekonstruksi sosial (dan personal) dalam rangka membantu pemecahan masalah yang dihadapi individu. Pada dua tahap yang terakhir ini tampak tumpang tindih pengertian bimbingan dan konseling, yang satu dapat dibedakan dari yang lainnya, tapi tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.
Bagaimana dengan perjalanan bimbingan konseling d Iindonesia? Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 – 24 Agustus 1960.
Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun “Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan “pada PPSP. Lahirnya Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.
Tahun 1978 diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah yang sampai saat itu belum ada jatah pengangkatan guru BP dari tamatan S1 Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Pengangkatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah mulai diadakan sejak adanya PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan. Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menp an/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.
Sampai tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas, parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah. Hingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing.
Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas. 
  







Daftar Pustaka

  1. Salahudin, Anas. (2010). Bimbingan dan Konseling. Bandung: Pustaka Setia.
  2. Tohirin. (2007). Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Rajawali Pers.
  3. Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosda.
  4. Arya. (2010). Sejarah Lahirnya Bimbingan dan Konseling, [Online]. Tersedia:http://belajarpsikologi.com/sejarah-lahirnya-bimbingan-dan-konseling/ [27 Februari 2011]
  5. Noorholic. (2008). Sejarah Bimbingan dan Konseling dan Lahirnya BK 17 Plus, [Online].
  6. Tersedia: http://noorholic.wordpress.com/2008/06/09/sejarah-bimbingan-dan-konseling-dan-lahirnya-bk-17-plus/ [27 Februari 2011]
  7. Sudrajat, Akhmad. (2008). Landasan Bimbingan dan Konseling, [Online]. Tersedia:http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/landasan-bimbingan-dan-konseling/  [27 Februari 2011]
  8. Utami Widyaiswari, Sejarah Lahirnya Bimbingan dan Konseling, [Online]. Tersedia:http://www.scribd.com/doc/55977839/Sejarah-Lahirnya-Bimbingan-Dan-Konseling

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar