Senin, 15 April 2013

BIMBINGAN DAN KONSELING II


TUJUAN DAN PRINSIP – PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING

PENDAHULUAN

Manusia adalah mahluk filosofis, artinya manusia mepunyai pengetahuan dan berpikir, mausia juga memiliki sifat yang unik, berbeda dengan mahluk lain dalam pekembanganya. Implikasi dari keragaman ini ialah bahwa individu memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih dan megembangkan diri sesuai dengan keunikan atau tiap–tiap pontensi tanpa menimbulkan konflik dengan lingkungannya. Dari sisi keunikan dan keragaman idividu, maka diperlukanlah bimbingan untuk membantu setiap individu mencapai perkembangan yang sehat didalam lingkungannya (Nur Ihsan, 2006 : 1)
Pada dasarnya bimbingan dan konseling juga merupakan upaya bantuan untuk menunjukan perkembangan manusia secara optimal baik secara kelompok maupun idividu sesuai dengan hakekat kemanusiannya dengan berbagai potensi, kelebihan dan kekurangan, kelemhan serta permaslahanya.
Adapun dalam dunia pendidikan, bimbingan dan konseling juga sangat diperlukan karena dengan adanya bimbingan dan konseling dapat mengantarkan peserta didik pada pencapai standar dan kemampuan profesional dan akademis, serta perkembangan dini yang sehat dan produktif.

PEMBAHASAN

TUJUAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Secara umum tujuan BK adalah memandirikan peserta didik dan mengembangkan potensi mereka secara optimal. Tujuan umum tersebut kemudia diarahkan pada kompetensi tertentu. Secara lebih spesifik tujuan pelayanan BK dapat dirinci sebagai berikut: (1) merencanakan kegiatan penyelasaian study, perkembangan karir serta kehidupan peserta didik di masa yang akan datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang oleh peserta didik seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat; (4) mengetui hambatan dan kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam study, penyesuain dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat.

Dalam rangka mencapai tujuan BK tersebut, pada dasarnya aktifitas BK diarahkan semaksimal mungkin untuk memanfisilatasi konseli agar mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi,  kekuatan, dan tugas-tugas perkembangannya, (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungan, (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri , (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya dan masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya, dan (7) mengembangakan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.

Secara umum BK memiliki fungsi memfisilitasi perkembangan diri peserta didik secara optimal, hal ini secara lebih rinci dapat di uraikan dalam 10 fungsi berikut ini:
a.    Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, lingkungan, dan berbagai norma yang berlaku). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. 
b.    Fungsi Fasilitasi, yakni memberikan kemudahan pada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seluruh aspek dalam diri konseli.
c.    Fungsi Penyesuaian, yakni membantu konseli agar dapat menyesuaiakan diri dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
d.    Fungsi Penyaluran, yakni membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau progam study, dan menetapkan penguasaaan karir yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan cirri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
e.    Fungsi Adaptif, Yakni membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah, staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampun dan kebutuhan konseli. Dengan informasi yang memadai mengenai konseling, pembimbing atau konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi sekolah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. 
f.     Fungsi pencegahan (preventif), yakni fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbiingan kepada konseli tentang cara menghindari diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya: bahanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obat, droup out, dan pergaulan bebas.
g.    Fungsi Perbaiakan, yakni membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berrfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola pikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat menghantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
h.    Fungsi Penyembuhan, yakni bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konselin yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, social, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching. 
i.      Fungsi Pemeliharaan, yakni membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari dari kondisikondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri.Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, relative dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling.
j.      Fungsi Pengembangan, yakni bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fumgsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembanga konseli. Konselor dan personel lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial,

PRINSIP – PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING

Pengertian Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
Prinsip yang berasal dari asal kata ” PRINSIPRA” yang artinya permulan dengan sautu cara tertentu melhirkan hal –hal lain , yang keberadaanya tergantung dari pemula itu, prisip ini merupakam hasil perpaduan antara kajian teoriitik dan teori lapangan yang terarah yang digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan yanh dimaksudkan.( Halaen,2002,: 63 )

Prinsip bimbingan dan Konseling memnguraikan tentang pokok – pokok dasar pemikiran yang dijadikan pedoman program pelaksanaan atau aturan main yanh harus di ikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan dapat juga dijadikan sebagai seperangkat landassan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.

Prayitno mengatakan : ” Bahwa prinsip merupaka hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yanh digunakan sebgai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan” jadi dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip – prinsip bimbingan dan konseling merupakan pemaduan hasil – hasil teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pedoman sekaligus dasar bagi peyelengaran pelayanan.

Macam – macam prinsip bimbingan dan konseling
Dalam pelayanan bimbuingasn dan konseling prisip yang digunakan bersumber dari kajian filosofis hasil dari penelitian dan pengalama praktis tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks sosial budayanya, pegertian, tujuan, fungsi, dan proseses, penyelenggaraan bimbingan dan konseling.

Ada beberapa prinsip pelaksanaan bimbingan dan konseling diantaranya :
a.    Bimbingan adalah suatu proses membantu individu agar mereka dapat membantu dirinya sendiri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
b.    Hendaknya bimbingan bertitik tolak (berfokus) pada individu yang dibimbing
c.    Bimbingan diarahkan pada individu dan tiap individu memiliki karakteristik tersendiri.
d.    Masalah yang dapat diselesaikan oleh tim pembimbing di lingkungan lembaga hendaknya diserahkan kepada ahli atau lembaga yang berwenang menyelesaikannya.
e.    Bimbingan dimulai dengan identifikasi kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang akan dibimbing.
f.     Bimbingan harus luwes dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan individu dan masyarakat.
g.    Program bimbingan di lingkungan lembaga pendidikan tertentu harus sesuai dengan program pendidikan pada lembaga yang bersangkutan.
h.    Hendaknya pelaksanaan program bimbingan dikelola oleh orang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan, dapat bekerja sama dan menggunakan sumber-sumber yang relevan yang berada di dalam ataupun di luar lembaga penyelenggara pendidikan.
i.      Hendaknya melaksanakan program bimbingan di evaluasi untuk mengetahui hasil dan pelaksanaan program (Nur Ihsan, 2006 : 9)

Rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling pada umumnya ialah berkenaan dengan sasaran pelayanan, masalah klien, tujuan dan proses penanganan masalah, program pelayanan, penyelenggaraan pelayanan.

Diantara prinsip-prinsip tersebut adalah :
1. Prinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran pelayanan
Sasaran pelayanan bimbingan dan konseling adalah individu-individu baik secara perorangan aupun kelompok yang menjadi sasaran pelayanan pada umumnya adalah perkembangan dan perikehidupan individu, namun secara lebih nyata dan langsung adalah sikap dan tingkah lakunya yang dipengaruhi oleh aspek-aspek kepribadian dan kondisi sendiri, serta kondisi lingkungannya, sikap dan tingkah laku dalam perkembangan dan kehidupannya itu mendorong dirumuskannya prinsip-prinsip bimbingan dan konseling sebagai berikut :
ü  BK melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, agama dan status sosial ekonomi.
ü  BK berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan dinamis.
ü  BK memperhatikan sepenuhnya tahap-tahap dan berbagai apek perkembangan individu.
ü  BK memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual yang menjadi orientasi pokok pelayanannya.

2. Prinsip-prinsip berkenaan dengan masalah individu
Berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kehidupan individu tidaklah selalu positif, namun faktor-faktor negatif pasti ada yang berpengaruh dan dapat menimbulkan hambatan-hambatan terhadap kelangsungan perkembangan dan kehidupan individu yang berupa masalah. Pelayanan BK hanya mampu menangani masalah klien secara terbatas yang berkenaan dengan :
ü  BK berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental atau fisik individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah, disekolah serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
ü  Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada invidu yang kesemuanya menjadi perhatian utama pelayanan BK.

3. Prinsip-prinsip berkenaan dengan program pelayanan
Adapun prinsip-prinsip yang berkenaan dengan pelayanan layanan BK itu adalah sebgaai berikut :
ü  BK merupakan bagian integrasi dari proses pendidikan dan pengembangan, oleh karena itu BK harus diselaraskan dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik.
ü  Program BK harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga.
ü  Program bimbingan dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan terendah sampai tertinggi.

4. Prinsip-prinsip berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan
Pelaksanaan pelayanan BK baik yang bersifat insidental maupun terprogram, dimulai dengan pemahaman tentang tujuan layanan, dan tujuan ini akan diwujudkan melalui proses tertentu yang dilaksanakan oleh tenaga ahli dalam bidangnya, yaitu konselor profesional.

Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan hal tersebut adalah :
ü  BK harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalm menghadapi permasalahannya.
ü  Dalam proses BK keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu sendiri bukan karena kemauan atau desakan dari pihak lain.
ü  Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi. Kerja sama antara guru pembimbing, guru-guru lain dan orang tua anak amat menentukan hasil pelayanan bimbingan. P
ü  engembangan program pelayanan BK ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang terlibat dalam proses pelayanan dan program bimbingan dan konseling itu sendiri (Hanen, 2002).

5. Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling disekolah dalam lapangan operasional bimbingan dan konseling.
Sekolah merupakan lembaga yang wajah dan sosoknya sangat jelas. Di sekolah pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan amat baik mengingat sekolah merupakan lahan yang secara potensial sangat subur, sekolah memiliki kondisi dasar yang justru menuntut adanya pelayanan ini pada kadar yang tinggi. Pelayanan BK secara resmi memang ada disekolah, tetapi keberadaannya belum seperti dikehendaki.


KESIMPULAN

Prinsip-prinsip BK merupakan pemanduan hasil-hasil teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pedoman dan dasar bagi penyelenggaraan pelayanan.

a. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan :
1)     Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur jenis kelamin, suku, agama dan status sosial ekonomi.
2)     Bimbingan dan konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu dan memperhatikan tahap-tahap atau berbagai aspek perkembangan individu, serta memberikan perhatian utama kepada perbedaan invidual yang menjadi orientasi pokok pelayanan.

b. Prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individu
Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental atau fisus individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah maupun disekolah, dan yang menjadi faktor timbulnya masalah pada individu adalah kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan.

c. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan
o  Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan pengembangan individu;
o  Program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dngan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga serta disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan terendah sampai tertinggi.

d. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan pelaksanaan pelayanan
o  Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk mengembangkan invidu sehingga keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu sendiri.
o  Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.

e. Prinsip bimbingan dan konseling disekolah
Prinsip BK disekolah menegaskan bahwa penegakan dan penumbuh kembangan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah hanya mungkin dilakukan oleh konselor profesional yang sadar akan profesinya, dan mampu menerjemahkan ke dalam program dan hubungan dengan sejawat dan personal sekolah lainnya, memiliki komitmen dan keterampilan untuk membantu siswa dengan segenap variasinya disekolah, dan mampu bekerja sama serta membina hubungan yang harmonis-dinamis dengan kepala sekolah.





                                                                           
DAFTAR PUSTAKA

1.    Hallen, 2002. Bimbingan dan Konseling. Liputan Press : Jakarta
2.    Nurihsan Juntika. 2006. Bimbingan dan Koseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. PT RFIKA ADITAMA : Bandung
3.    Prayitno dan Erman Amfi. 1995. Dasar-dasar Bimbingan Konseling. Reneka Cipta : Jakarta

BIMBINGAN DAN KONSELING



PENGERTIAN dan SEJARAH BIMBINGAN DAN KONSELING

A.     Pengertian Bimbingan
Rumusan tentang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke 20, yaitu sejak dimulainya bimbingan yang diprakasai oleh Frank Parson pada tahun 1908, dimana saat itu Frank Parson mendirikan sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau. Inilah yang merupakan cikal bakal pengembangan gerakan bimbingan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Adapun mengenai pengertian bimbingan, terdapat banyak pakar yang berusaha mendefinisikan arti dari bimbingan, diantaranya :
-          Frank Parson (dalm Jones, 1951) mendefiniskan bimbingan sebagai bantuan yang diberikan pada individu untuk dapat memilih mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu.
-          Dunnsmoor & Miller dalam McDaniel, 1969 mengatakan bahwa bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai suatu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk memperoleh penyesuaian yang baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan
-          Menurut Mortensen dan Schmuller, 1976, bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu dalam menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi dan layanan staf ahli dengan cara mana setiap individu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan dan kesanggupannya sepenuh-penuhnya sesuai dengan ide-ide demokrasi
-          Menurut Bernard & Fullmer, 1969, mendefinisakn bimbingan sebagai segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu.
-          Menurut Jones, Staffire & Stewart, 1970, mendefinisikan bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana. Bantuan itu berdasarkan atas prinsip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hidupnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak diturunkan (diwarisi), tetapi harus dikembangkan.
Beberapa tokoh diatas berusaha mendefinisikan pengertian bimbingan. Dari sekian definisi yang ada, terdapat beberapa hal penting yang menjadi inti dari bimbingan, yaitu:
1.      Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses. Hal ini berarti bahwa pelayanan bimbingan bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan melalui proses tertentu sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam pelayanan ini
2.      Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan. Bantuan disini tidak diartikan sebagai bantuan materil melainkan bantuan yang menunjang bagi pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing.
3.      Bantuan itu diberikan kepada individu, baik perseorangan maupun kelompok.
4.      Pemecahan masalah dalam bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan klien sendiri. Dalam hal ini, tujuan bimbingan adalah mengembangkan kemampuan klien untuk dapat mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapinya dan akhirnya dapat mencapai kemandirian.
5.      Bimbingan ini dilaksanakan dengan menggunakan bahan interaksi, nasihat ataupun gagasan, serta alat-alat tertentu baik yang berasal dari klien sendiri, konselor, maupun dari lingkungan.
6.      Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur tertentu sjaa, tapi meliputi semua usia.
7.      Bimbingan diberikan oleh orang yang ahli, yaitu orang yang memilki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan dan latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling.
8.      Pembimbing tidak selayaknya memaksakan keinginn-keinginannya kepada klien karena kline mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah dan jalan hidupnya sendiri.
9.      Bimbingan dilakukan sesuai  norma-norma yang berlaku. Dalam hal ini, proses bimbingan baik dari bentuk, isi dan tujuannya serta aspek-aspek penyelenggaraannya tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.

Kemudian Thantawy (dalam Thantawy, 1995) berusaha merumuskan bimbingan, yaitu:
1.      Bimbingan adalah suatu kegiatan memberikan bantuan atau pertolongan. Bantuan disini adalah dalam rangka dan untuk tujuan pendidikan, bantuan dalam mengatur aktivitas kehidupan bukan mengendalikan kehidupan individu; bantuan untuk membuat keputusan, bukan membuatkan keputusan bagi orang lain.
2.      Bimbingan ditujukan kepada semua individu, bukan hanya sekelompok individu yang mempunyai masalah.
3.      Bentuk bantuan haruslah sistematis, mengikuti prosedur yang direncanakan secara teratur bukan sporadic. Suatu proses yang berkesinambungan, bukan kegiatan yang bersifat sewaktu-waktu secara kebetulan. Suatu proses yang interaktif yang mendorong individu untuk berkembang sesuai potensinya.
4.      Bantuan haruslah datang darii orang-orang yang memiliki keahlian secara professional.  
Dari beberapa rangkuman diatas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu baik remaja maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Tujuan bimbingan adalah untuk mengembangkan kemampuan individu dalam:
a.      Memahami dirinya/ bakat, minat, kemampuan, kelemahan, nilai-nilai yang penting bagi dirinya.
b.      Memahami lingkungan atau kesempatan-kesempatan yang tersedia baik yang menunjang peningkatan penddikan, dan karir atau pekerjaan maupun kondisi yang mungkin menghambat kemajuan.
c.       Memilih alternative, menentukan atau mengambil keputusan tentang cita-cita atau jalan hidupnya dan menyesuaikan diri berdasarkan hasil pemahaman diri dan pemahaman akan lingkungan untuk meraih masa depan yang lebih cerah.
d.      Mengambil tindakan atau langkah-langkah untuk mengaktualisasikan cita-cita hidupnya dalam rangka meraih masa depan, serta memeperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan bagi dirinya dan masyarakat.

B.      Pengertian Konseling
Secara etimologis istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu “consilium” yang beararti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami”. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”.
Sama hal nya dengan bimbingan, banyak pakar yang berusaha mendefiniasikan tentang apa itu konseling. Diantaranya:
-          Menurut Jones (1955) konseling merupakan kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.
-          McDaniel, 1956 mendefinisikan konseling sebagai suatu rangkaian pertemuan langsung dari individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan diri secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya.
-          Kemudian Bernard dan Fullmer menyatakan bahwa konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan, motivasi dan potensi-potensi yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasi ketiga hal tersebut.
Dari sekian banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (yang disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (yang disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Kemudian dapat dirumuskan dengan singkat bahwa Bimbingan Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.



Sejarah Bimbingan Konseling
Dari mulai berdirinya sampai saat ini bimbingan dan konseling terus mengalami perkembangan, baik di dunia maupun di Indonesia. Miller (dalam prayitno, 1999) berusaha meringkaskan perkembangan bimbingan dan konseling kedalam lima periode.
Periode pertama, Frank Parson memprakarsai gerakan bimbingan melalui didirikannya sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston pada tahun 1908. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau. Inilah yang merupakan cikal bakal pengembangan gerakan bimbingan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pada masa ini bimbingan dilihat sebagi usaha mengumpulkan berbagai keterangan tentang individu dan tentang jabatan.
Pada periode kedua gerakan pendidikan lebih menekankan pada bimbingan pendidikan. Dalam tahap ini bimbingan dirumuskan sebagai suatu totalitas pelayanan yang secara keseluruhan dapat diintegrasikan kedalam upaya pendidikan. Pada dua periode awal ini rumusan konseling belum dirumuskan.
Pada periode ketiga, pelayanan untuk penyelesaian diri mendapat perhatian utama. Pada periode ini disadari benar bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya disangkut pautkan dengan usaha-usaha pendidikan saja, tidak juga mencocokkan individu dengan jabatan-jabatan tertentu saja, malainkan juga peningkatan kehidupan mental. Pada periode ini rumusan konseling dimunculkan.
Pada periode keempat gerakan bimbingan menekankan pentingnya proses perkembangan individu. Pada periode ini pelayanan bimbingan dihubungkan dengan usaha individu untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Membantu individu dalam mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya dalam mencapai kematangan dan kedewasaan menjadi tujuan utama.
Periode kelima. Pada periode ini tampak adanya dua arah yang berbeda, yaitu kecenderungan untuk kembali pada periode pertama dan kecenderungan yang lebih menekankan pada rekonstruksi sosial (dan personal) dalam rangka membantu pemecahan masalah yang dihadapi individu. Pada dua tahap yang terakhir ini tampak tumpang tindih pengertian bimbingan dan konseling, yang satu dapat dibedakan dari yang lainnya, tapi tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.
Bagaimana dengan perjalanan bimbingan konseling d Iindonesia? Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 – 24 Agustus 1960.
Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun “Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan “pada PPSP. Lahirnya Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.
Tahun 1978 diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah yang sampai saat itu belum ada jatah pengangkatan guru BP dari tamatan S1 Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Pengangkatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah mulai diadakan sejak adanya PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan. Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menp an/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.
Sampai tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas, parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah. Hingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing.
Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas. 
  







Daftar Pustaka

  1. Salahudin, Anas. (2010). Bimbingan dan Konseling. Bandung: Pustaka Setia.
  2. Tohirin. (2007). Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Rajawali Pers.
  3. Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosda.
  4. Arya. (2010). Sejarah Lahirnya Bimbingan dan Konseling, [Online]. Tersedia:http://belajarpsikologi.com/sejarah-lahirnya-bimbingan-dan-konseling/ [27 Februari 2011]
  5. Noorholic. (2008). Sejarah Bimbingan dan Konseling dan Lahirnya BK 17 Plus, [Online].
  6. Tersedia: http://noorholic.wordpress.com/2008/06/09/sejarah-bimbingan-dan-konseling-dan-lahirnya-bk-17-plus/ [27 Februari 2011]
  7. Sudrajat, Akhmad. (2008). Landasan Bimbingan dan Konseling, [Online]. Tersedia:http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/landasan-bimbingan-dan-konseling/  [27 Februari 2011]
  8. Utami Widyaiswari, Sejarah Lahirnya Bimbingan dan Konseling, [Online]. Tersedia:http://www.scribd.com/doc/55977839/Sejarah-Lahirnya-Bimbingan-Dan-Konseling